Thursday, 3 July 2014

Sebentar Lagi

11:06 Posted by tyas wirani No comments
kira-kira satu tahun yang lalu, pertama kali saya mengalami hidup jauh dari rumah. pertama kali saya jadi anak kos. saya pindah ke Surabaya untuk menuntut ilmu.

saya masih ingat ketika ibu mengantar saya ke Surabaya. beberapa hari kemudian, beliau pulang. tidak mungkin beliau menunggui saya di Surabaya. di rumah ada bapak dan adek yang tentu saja lebih membutuhkan ibu.

saya ingat, pagi itu ketika ibu pulang ke Jogja. saya menangis tak hentinya sampai siang. hari itu hari ketiga saya datang ke kampus untuk ikut pelatihan Bahasa Inggris.

ketika latihan speaking, ada sesi dimana kami dites masuk ruangan satu per satu. saat itu, tutor saya bertanya apakah saya dekat dengan keluarga. tentu saja, saya dekat dengan semua anggota keluarga inti. ketika beliau bertanya siapa yang paling dekat dengan saya, saya menjawab dengan terbata-bata. menahan air mata.

"my mum is the closest family member to me."

saat itu juga tutor saya bertanya, apakah saya baik-baik saja. beliau juga menawarkan untuk mengganti topik speaking. tapi tawaran beliau saya tolak.

"no, i am fine. i just miss her. she went back to Jogja yesterday and it is my first time living far away from her."

saya tidak pernah menyesal menolak tawaran tutor untuk mengganti topik speaking. saat itu yang saya inginkan adalah saya harus bisa menjadi orang yang kuat. saya harus bisa mandiri. selama ini, ibu selalu ada untuk saya. apapun yang saya lakukan tidak pernah lepas dari pertolongan ibu.

bulan itu, saya sedang dalam proses membicarakan pernikahan saya. saya akan menjalani kehidupan dengan tahapan yang lebih tinggi. meskipun saya akan selalu menjadi putri kecil bagi orangtua saya, saya ingin mandiri.

saya harus tegar dan kuat.

beberapa bulan kemudian, saya menikah. masih segar dalam ingatan saya, ketika saya pamit kepada orangtua saya sebelum prosesi siraman. orangtua saya menangis. saya juga tidak sanggup menahan air mata. namun dalam hati saya berjanji. saya harus menjadi orang yang tegar dan mandiri. kalaupun saya membuat orangtua saya menangis, tangisan mereka adalah tangisan haru, bangga dan bahagia.

sekarang saya berada di suatu tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari Jogja. bohong jika saya tidak rindu keluarga. bohong jika saya tidak terbersit pikiran untuk menghabiskan musim panas di Jogja.

di saat seperti ini, saya merasa tantangan yang diberikan hidup terlalu berat. tetapi ingatan ketika sungkem sebelum prosesi siraman selalu terulang. ingatan itu selalu mengingatkan saya untuk tegar, kuat dan sabar.

saya yakin. kelak ketika berjumpa dengan keluarga, mereka akan menyambut saya dengan tangis haru, bangga dan bahagia.


"bersabar lah, sebentar lagi. lakukan yang terbaik dan buat mereka bangga. mereka yang selalu menyebut namamu dalam doa."


Utrecht
dua setengah jam sebelum cahaya matahari tergantikan cahaya bulan

0 comments:

Post a Comment